Memilih Langgam Arsitektur
Langgam arsitektur adalah bagian dari budaya. Dan budaya adalah hasil karya manusia. Namun manusia seringkali diperbudak oleh hasil karya mereka sendiri. Ironis? Lihatlah tren pemasaran telepon selular. Setiap tiga bulan sekali mereka meluncurkan model baru. Seperti memilih telepon selular, saya harus pilih yang mana? nokia, motorola, samsung atau yang mana? bingung nih. Dan penjual dengan segera menjawab, “Oh Pak yang terbaru saja nih. Bisa ini, itu, anu … dst”. Lalu Anda tertarik dan bertanya, “Berapa harganya?” - Weleh, weleh harganya selangit. Demikian juga saat memilih langgam arsitektur.
Mungkin bukan harganya yang membuat Anda geleng-geleng. Tapi saat sudah jadi dan mulai tinggal, kok rasanya kurang pas dengan saya? Merubah atau menerima? merubah akan menimbulkan biaya baru, tetapi menerima juga sulit. Oleh karena itu jangan memilih langgam arsitektur karena model terbaru semata. Namun ada juga yang tetap ngotot mengambil model yang terbaru. Mau dibilang apa?
Untuk itu saya ingin memberikan beberapa tips terkait dengan memilih langgam arsitektur.
- Kenali asal-usul langgam. Setiap langgam memiliki proses kelahirannya. Mengapa bisa lahir? Karena terjadi sesuatu pada masa itu. Kadang berlaku sesaat, setempat namun tidak jarang menjadi mendunia. Memilih secara serampangan maka hasilnya hanyalah sebuah bangunan yang tampaknya bagus.
- Lihat lingkungan atau kondisi tempat bangunan akan dibuat. Lingkungan menjadi faktor penentu atas desain bangunan. Definisi bangunan adalah suatu wadah untuk melakukan kegiatan yang terlindung dari pengaruh lingkungan luar. Contoh, sebuah igloo merupakan hasil desain untuk berlindung dari cuaca ekstrim dingin. Rumah Panjang di kalimantan dibuat karena mereka harus berlindung dari binatang. Selain itu pola hidup berkomunitas dalam satu rumah panjang merupakan jawaban atas faktor keamanan.
- Periksalah dengan budaya Anda. Pengertian budaya di sini luas, termasuk nilai-nilai keluarga, adat istiadat dan kepercayaan, kebiasaan yang dimiliki. Contohlah ingin menggunakan rumah model minimalis. Namun ternyata Anda tidak memiliki kebiasaan teratur dan rapi. Jadinya bukan rumah minimalis tetapi ruko.
- Perhitungan anggaran. Terakhir namun tidak kalah penting - ingatlah anggaran Anda. Rumah tropis yang menggunakan material kayu memang bagus. Namun dengan kelangkaan kayu saat ini maka anda harus membayar dengan harga tinggi.






Jadi membangun rumah minimalis belum tentu sesuai dong?
betul mas vian, sebaiknya sesuaikan dengan budaya. bila anda termasuk orang yang suka menyimpan atau numpuk barang - sulit untuk memiliki rumah minimalis
banyak yang beranggapan kalau membuat rumah dengan langgam minimalis lebih murah karean tida terlalu banyak ornamen seperti langgam klasik. tetapi pada kenyataannya, rumah dengan langgam minimalis tidak bisa di bilang murah jugam karena pengerjaannya finising harus rapi, ornamen-ornamen yang mendukung untuk langgam ini juga tidak bisa di bilang murah. dan juga beaya perawatannya harus di perhatikan. bener kata pak susanto, kalau pemiliknya Jorok. rumah minimalis bisa jadi Ruko…terimakasih pencerahannya pak.
salam.
langgam di arsitektur ngga cuma minimalis loh, masi ada klasik, mediterania, tropis dan lainnya, kalau saya sih bilang sederhananya langgam arsitektur itu ibarat casing di hp, jadi lebih baik dalam desain arsitektur rumah, kita pahami dulu kebutuhan dan fungsinya baru kemudian kita bermain langgam, toh mau langgam arsitektur apapun kalau pemilik rumahnya ngga suka bebersih rumah ya hasilnya jorok…:)
so, pendapat kalau desain rumah-nya minimalis terus pemiliknya harus teratur dan rapi koq kayaknya perlu dikaji ulang…menjadi
“apapun pilihan langgam arsitektur rumah, kalau anda rajin bebersih , teratur dan rapi, saya yakin rumah anda akan memiliki nilai estetika tersendiri..”