Karyanya Bukan Miliknya

Richard RogersHidup jaman ini katanya sulit. Semua orang berlomba-lomba mencari kerja dengan gaji yang tinggi. Seorang arsitek juga manusia dengan segala kebutuhan hidup. Namun ada dari mereka (atau kita) yang hidup dan karyanya bukan untuk diri sendiri.

Mereka yang secara duniawi bekerja dan berprestasi. Satu orang saya kenal secara pribadi. Dia juga yang memberi dorongan untuk memberi (namun tidak dengan tujuan menerima). Awali dengan yang kita mampu dan punya, bukan yang tidak kita punyai. Terima kasih untuk Pitoyo Adhi.

Ternyata di bidang arsitektur saya menemukan orang yang sama. Orang yang bahkan namanya telah cukup lama dan dikenal semua arsitek. Richard Rogers arsitek Pompidou Centre, 1977 memenangkan penghargaan Pritzker Award 2007. Dan inilah salah satu kata-katanya

Over the years, the architect has become well known for his philosophy as well as for his buildings. His London firm, Richard Rogers Partnership, has adopted bylaws specifying that the directors get no more than six times the salary of the lowest-paid architect, with the rest of the money going to profit-sharing, charities or investment. “I don’t believe in the ownership of work,” he said.

Siapa diantara pembaca yang rela menyerahkan ke-aku-an dari setiap karyanya? Siapa yang bisa mengatakan sebagian besar keuntungan adalah untuk dibagi, sumbangan dan investasi lebih lanjut. Siapa yang mau mengorbankan keinginannya untuk orang lain?

Artikel in ditulis pada Kamis, 3 April 2008 di kategori Berita. Anda dapat mengikuti respon pembaca melalui RSS 2.0 feed. Anda dapat meninggalkan respon, atau trackback dari web site Anda sendiri.

5 Responses to “Karyanya Bukan Miliknya”

  1. simpri on April 22nd, 2008 at 11:07 am

    di film 7 years in tibet ada dialog yang kurang lebih seperti itu,
    Ayo manjat gunung, biar dunia kenal penakluk gunung ini. (pak bule ngomong sama mbak tibet)
    Mba Tibet bilang, Pak Bule ini lucu, orang barat (katanya) ingin dikenal karena egonya,kalau kami (katanya) baru hebat kalau sudah bisa mengalahka ego.

  2. C Sutanto on April 22nd, 2008 at 7:15 pm

    memang demikian mas simpri, saya sekarang sedang berusaha untuk mengurangi ego. terima kasih mas simpri sudi mampir kemari.

  3. Thomas W.W on Oktober 8th, 2008 at 2:34 pm

    Terimakasih telah berbagi pak.
    Gusti Mboten Sare.

    salam

  4. C Sutanto on Oktober 9th, 2008 at 9:56 am

    @Thomas W.W: sami sami pak. belajar arsitek sudah berapa lama nih?

  5. ismail on Oktober 21st, 2008 at 4:06 pm

    jack

Leave a Reply

Selamat datang

Anda akan menemukan ide ataupun catatan tentang arsitektur, interior, rumah dan jasa konsultan dan kontraktor. Isi dari web ini merupakan buah pikiran pribadi. Komentar dan kritik akan sangat membantu.

 

Tag

Suara Pembaca

Galeri

Warteg blok F, Tanah Abang Sebelum periksa kandungan - beli gorengan Belajar di Starbuck Nathan & Eduard Rambut Jabrik Bunga dari Eduard untuk Mami 

FeedBurner

Web ini menggunakan fitur FeedBurner untuk mempermudah Anda membaca artikel tentang arsitektur, interior atau desain rumah pada Feed Reader Anda atau langsung di FeedBurner/arsitek.

 

Social Bookmark

Anda dapat menyimpan link halaman ini di web site Social Bookmark. Klik pilihan di bawah dan pilih social bookmark Anda