Karyanya Bukan Miliknya
Hidup jaman ini katanya sulit. Semua orang berlomba-lomba mencari kerja dengan gaji yang tinggi. Seorang arsitek juga manusia dengan segala kebutuhan hidup. Namun ada dari mereka (atau kita) yang hidup dan karyanya bukan untuk diri sendiri.
Mereka yang secara duniawi bekerja dan berprestasi. Satu orang saya kenal secara pribadi. Dia juga yang memberi dorongan untuk memberi (namun tidak dengan tujuan menerima). Awali dengan yang kita mampu dan punya, bukan yang tidak kita punyai. Terima kasih untuk Pitoyo Adhi.
Ternyata di bidang arsitektur saya menemukan orang yang sama. Orang yang bahkan namanya telah cukup lama dan dikenal semua arsitek. Richard Rogers arsitek Pompidou Centre, 1977 memenangkan penghargaan Pritzker Award 2007. Dan inilah salah satu kata-katanya
Over the years, the architect has become well known for his philosophy as well as for his buildings. His London firm, Richard Rogers Partnership, has adopted bylaws specifying that the directors get no more than six times the salary of the lowest-paid architect, with the rest of the money going to profit-sharing, charities or investment. “I don’t believe in the ownership of work,” he said.
Siapa diantara pembaca yang rela menyerahkan ke-aku-an dari setiap karyanya? Siapa yang bisa mengatakan sebagian besar keuntungan adalah untuk dibagi, sumbangan dan investasi lebih lanjut. Siapa yang mau mengorbankan keinginannya untuk orang lain?






di film 7 years in tibet ada dialog yang kurang lebih seperti itu,
Ayo manjat gunung, biar dunia kenal penakluk gunung ini. (pak bule ngomong sama mbak tibet)
Mba Tibet bilang, Pak Bule ini lucu, orang barat (katanya) ingin dikenal karena egonya,kalau kami (katanya) baru hebat kalau sudah bisa mengalahka ego.
memang demikian mas simpri, saya sekarang sedang berusaha untuk mengurangi ego. terima kasih mas simpri sudi mampir kemari.
Terimakasih telah berbagi pak.
Gusti Mboten Sare.
salam
@Thomas W.W: sami sami pak. belajar arsitek sudah berapa lama nih?
jack